oleh

HUT ke-81 Jateng, Akses Pendidikan Semakin Luas dan Gratis

JATENG.SIN.CO.ID – Rafa Fidianto tidak membiarkan kegagalannya masuk sekolah negeri, mengubur cita-citanya. Pada hari pertama mengenakan seragam SMA tahun ini, anak pengemudi ojek online itu duduk bersama teman-teman barunya di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang.

Jalan Rafa menuju bangku SMA sempat tersendat, karena nilainya belum cukup untuk membawanya lolos ke sekolah negeri. Walakin, melalui Program Sekolah Kemitraan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka jalan lain. Berkat program itu, dia dapat melanjutkan pendidikan secara gratis, dan memelihara mimpinya menjadi tentara.

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman,” kata Rafa, saat ditemui Senin, 13 Juli 2026.

Ya. Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, kisah Rafa menjadi potret kehadiran pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, layanan pendidikan diperluas melalui sekolah negeri, sekolah kemitraan dengan sekolah swasta, sekolah khusus bagi atlet muda, hingga pendidikan di luar negeri.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 231.724 kursi disediakan di SMA, SMK, dan SLB Negeri. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 40,83 persen dari perkiraan lulusan SMP sederajat di Jawa Tengah. Para siswa dibebaskan dari biaya operasional sekolah, antara lain SPP dan iuran wajib, paket buku pelajaran, serta kegiatan akademik dan ekstrakurikuler tertentu.

Baca Juga  Gubernur Jateng Jalin Kerja Sama dengan Jepang Terkait Penanggulangan Bencana

Namun, karena daya tampung sekolah negeri belum mampu menjangkau seluruh lulusan, maka Pemprov Jateng menggandeng 139 sekolah swasta, terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK, melalui Program Sekolah Kemitraan. Program tersebut menyasar calon murid dari keluarga kurang mampu kategori Desil 1 hingga Desil 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekolah mitra dilarang menarik biaya pendidikan dari peserta program.

Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 3.676 siswa diterima melalui Sekolah Kemitraan, terdiri atas 1.036 siswa SMA dan 2.640 siswa SMK. Jumlah tersebut bertambah 1.273 siswa dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang menjangkau 2.390 siswa. Pemprov Jateng menyediakan bantuan Rp2 juta per murid setiap tahun, dengan daya tampung program mencapai 5.004 kursi.

Dukungan bagi keluarga kurang mampu juga dilakukan melalui bantuan pembiayaan pendidikan. Pada 2025, Pemprov Jawa Tengah menyalurkan Beasiswa Siswa Miskin (BSM) kepada 10.000 siswa, masing-masing sebesar Rp1 juta. Selain itu, sebanyak 1.100 anak tidak sekolah (ATS) mendapat BSM dengan nilai Rp2 juta per siswa.

Pada 2026, BSM kembali diberikan kepada 10.000 siswa dengan nominal Rp1 juta per siswa. Dukungan pembiayaan juga diberikan melalui Bosda, dengan perhitungan pendekatan siswa miskin, yang menjangkau 50.620 siswa, dengan nominal Rp1 juta per siswa.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan, upaya pemerataan pendidikan tidak hanya dilakukan dengan menambah daya tampung sekolah, tetapi juga melalui dukungan pembiayaan agar kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak untuk tetap bersekolah.

Baca Juga  Cegah Penyebaran Covid-19, Polwan Polda Banten Berikan Himbauan Protokol Kesehatan

perluasan kesempatan belajar tersebut diiringi komitmen menjaga proses penerimaan murid tetap adil. Peringatan “no titip, no jastip” berulang kali disampaikan Ahmad Luthfi dalam berbagai kesempatan yang berkaitan dengan pendidikan. SPMB Jawa Tengah harus dilaksanakan secara transparan, terbuka, objektif, dan tanpa diskriminasi, serta diawasi oleh Ombudsman.

“Tidak ada satu pun SMA di tempat kita yang titip-titip. No titip, no jastip. Kalau ada, saya copot kepseknya,” tegas Luthfi beberapa waktu lalu.

Ketegasan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan, kursi sekolah diberikan berdasarkan ketentuan, bukan karena kedekatan maupun campur tangan pihak tertentu. Dengan begitu, program sekolah gratis dan Sekolah Kemitraan benar-benar menjangkau anak-anak yang berhak menerima.

Luthfi menegaskan, pendidikan merupakan jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, sekaligus memutus mata rantai kemiskinan. Kondisi ekonomi, menurutnya, tidak boleh membuat anak kehilangan kesempatan belajar.

“Pendidikan ini merupakan investasi masa depan,” kata Luthfi.

Pemprov Jateng juga membuka ruang khusus bagi anak-anak yang memiliki bakat dan prestasi olahraga, melalui SMA Negeri Keberbakatan Olahraga atau SMANKO Jawa Tengah.

Sekolah berasrama di Kawasan Olahraga Jatidiri, Kota Semarang, itu memungkinkan para atlet muda tetap mengikuti pendidikan formal tanpa meninggalkan latihan dan kompetisi.

Baca Juga  Ketua Dewan Pers Beri Kesempatan SMSI Mendaftarkan Seluruh Anggotanya untuk Didata, Demi Perlindungan Perusahaan Pers

Pada tahun ajaran 2025/2026, SMANKO menampung 252 murid, terdiri atas 108 siswa kelas X dan 144 siswa kelas XI. Sebanyak 21 cabang olahraga menjadi fokus pembinaan, di antaranya atletik, angkat besi, panjat tebing, dan wushu. Pada Popnas 2025, siswa SMANKO turut menyumbangkan enam medali emas, satu perak, dan dua perunggu untuk Jawa Tengah.

Penerimaan atlet pelajar kembali dibuka untuk tahun ajaran 2026/2027. Siswa yang lolos memperoleh fasilitas berupa asrama, konsumsi, pembebasan biaya pendidikan dan latihan, perlengkapan atlet, uang saku bulanan, program uji tanding dan kejuaraan, hingga perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.

Ezar, atlet taekwondo asal Cilacap yang menjadi bagian dari SMANKO, menilai sekolah tersebut memperlihatkan dukungan pemerintah terhadap pembinaan atlet muda.

“Terima kasih Bapak Gubernur Jawa Tengah, dengan kesempatan yang telah diberikan kepada saya, untuk meraih prestasi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, mengatakan, pemerataan akses dan pendampingan terhadap siswa berprestasi harus berjalan beriringan.

“Kami ingin memastikan akses pendidikan merata, sekaligus memberi ruang bagi bakat dan prestasi generasi muda Jawa Tengah untuk tumbuh,” ujarnya.

Jangkauan layanan pendidikan juga diperluas melalui Program Beasiswa Sister Province. Pemprov Jateng memfasilitasi siswa dari keluarga kurang mampu untuk menempuh pendidikan di Korea Selatan. Program tersebut dirancang sebagai pendidikan berbasis kompetensi kerja, agar lulusannya mampu meningkatkan taraf ekonomi keluarga.

News Feed